Terapi Psikologis

 Psychological Therapies (Terapi Psikologis)

A.      Two Kinds of Therapies

Awalnya terapi atau pengobatan untuk para penderita “sakit mental” diberikan secara tidak bermoral. Rumah sakit jiwa pertama, tidak lebih dari penjara bagi penderita “sakit mental”. Mereka dirantai, dikurung, bahkan dipukul untuk menenangkan mereka. Terapi atau pengobatan bagi penderita “sakit mental” dulu menyebabkan kematian atau kebutuhan perawatan seumur hidup.

Pada 1793, barulah mulai dilakukan perawatan kepada orang-orang sakit jiwa dengan kebaikan dan bimbingan yang disebut juga dengan “perilaku moral”. Sekarang, kita bisa mengelompokkan terapi (metode pengobatan yang ditujukan untuk membuat seseorang merasa lebih baik dan berfungsi lebih efektif) dalam dua kategori besar, yaitu:

1.      Kategori pertama didasarkan pada teori dan teknik psikologis. Yang mana orang-orang menceritakan masalah mereka kepada terapis, lalu terapis mendengarkan dan mencoba mereka untuk memahami permasalahan atau membantu mereka untuk merubah perilaku yang terkait dengan masalah

2.      Kategori selanjutnya yaitu intervensi medis untuk membuat gejalanya ada dibawah kendali.

Psikoterapi biasanya melibatkan individu, pasangan, atau grup kecil dari individu yang bekerja langsung dengan terapis dan mendiskusikan permasalahan atau kekhawatiran mereka. Tujuan dari psikoterapi adalah untuk membantu penderita penyakit mental dan penderita gangguan psikologis untuk memahami diri mereka lebih baik.  

Insight therapies merupakan terapi dimana tujuan utamanya adalah untuk membantu orang-orang melawan “insight” dengan kepedulian pada perilaku, pemikiran, dan perasaan mereka. Insight merupakan pemahaman terhadap motif dan Tindakan seseorang.

Action therapy merupakan terapi yang tujuan utamanya untuk merubah gangguan atau perilaku tidak pantas secara langsung. Biomedical therapy termasuk juga penggunaan obat, metode bedah, perawatan sengat listrik, dan teknik stimulasi noninovasif.

B.      Psychoanalysis

Freud percaya bahwa pasien nya pernah enggunakan “unconscious thoughts” untuk mencegah kecemasan yang mana dengan demikian, pikiran tidak mudah dibawa ke kesadaran. Freud membuat suatu teknik terapi untuk membantu pasiennya merasa lebih rileks, terbuka, dan memungkinkan mereka untuk mengeksplor perasaan terdalam mereka tanpa takut malu atau diberikan penolakan. Metode ini disebut dengan “psychoanalysis” dan metode ini merupakan “insight therapy” yang menekankan pengungkapan konflik, dorongan, dan keinginan bawah sadar yang diasumsikan yang menyebabkan gangguan emosi dan perilaku.

Freud juga menggunakan dua teknik untuk mencoba mengungkapkan informasi yang ditekan dalam pikiran bawah sadar pasiennya, yaitu:

1.      Dream Interpretation

Atau analisis dari elemen-elemen yang didalamnya terdapat laporan mimpi pasien yang membentuk Sebagian besar metode psikoanalitik Freud. Freud percaya bahwa materi yang ditekan akan sering muncul kedalam mimpi meski hanya dalam bentuk simbolis.

Manifest content dari mimpi adalah mimpi sebenarnya dan peristiwa tertentu, tetapi latent content merupakan makna simbolis tersembunyi dari mimpi tersebut.

2.      Free Association

Merupakan teknik psikoanalitik yang mana pasien didorong untuk membicarakan apapun yang ada dipikiran mereka tanpa takut akan evaluasi negative.

 

3.      Resistance and Transference

Resistance ini terjadi Ketika pasien merasa enggan untuk bercerita tentang topik tertentu dengan mengubah topik pembicaraan atau menjadi diam. Sedangkan transference merupakan kecenderungan bagi pasien untuk memproyeksikan perasaan positif atay negative terhadap orang penting dari masa lalu kepada therapist

C.    Humanistic Therapy

Terapi humanistic menenkankan pentingnya keputuhan yang dibuat oleh individu dan potenti untuk mengubah suatu perilaku. Dua gaya terapi umum berdasarkan humanistic adalah:

1.      Carl Rogers’s Person-Centered Therapy

Rogers percaya bahwasannya tujuan dari terapi adalah untuk memberikan “unconditional positive regard” yang telah hilang dari kehidupan orang yang bermasalah dan untuk membantu orang tersebut mengenali perbedaan antara “real self” dan “ideal self”.

Rogers melihat ada 3 elemen kunci yang penting pada Carl Rogers’s person- centered therapy, yaitu:

o   Authenticity, berarti tanggapan atau respon yang tulus, terbuka, dan jujur dari terapis kepada pasien atau klien nya. Pada person-centered therapy ini, terapis harus mampu untuk menoleransi perbedaan individu tanpa menghakimi.

o   Unconditional Positive Regard, mengacu pada kehangatan, rasa hormat, dan menerima suasana yang diciptakan terapis untuk kliennya yang berpusat pada “centered therapy”. Positive regard ini diberikan tanpa adanya syarat.

o   Emphaty, terapis harus mampu untuk melihat dunia melalui mata dari orang yang bekerja dengan mereka. Para terapis juga harus mampu untuk menyatakan apa yang orang lain rasakan dan alami dengan se,aca, pemahaman yg disebut “empati”

Terapis “person centered” ini biasanya merespons dengan cara yg mencari klarifikasi dan menunjukkan upaya untuk memahami pengalaman individu. Refleksi mengacu pada teknik yang digunakan terapis untuk memungkinkan klien terus berbicara dan memiliki wawasan tanpa gangguan interprestasi terapis dan kemungkinan bias.

Variasi dari person-centered therapy ini adalah “motivational Interviewing” atau yang disingkat (MI). berbeda dengan person-centered therapy, MI ini memiliki tujuan spesifik, yaitu untuk mengurangi ambivalensi tentang perubahan dan untuk meningkatkan motivasi intrinsic untuk membawa perubahan itu. Saat ini, MI sudah diperbarui dan sekarang terdiri atas 4 proses, yaitu:

o   Engaging klien untuk mengebangkan aliansi kerja terapeutik dengan focus pada tujuan dan arah konseling

o   Evoking (membangkitkan) motivasi klien untuk berubah

o   Elicting (memunculkan) motivasi klien untuk berubah

o   Planning (merencanakan) bagaimana menerapkan perubahan tersebut.

2.      Gestalt Therapy

Founder dari gestalt therapy ini adalah Fritz Perls, yang percaya bahwa masalah seseorang itu seringkali berasal dari menyembunyikan bagian penting dari perasaan mereka dari diri mereka sendiri. Gestalt therapy ini merupakan bentuk terapi wawasan direktif yang dimana terapis membantu klien nya untuk menerima semua bagian dari perasaan dan pengalaman subjektif mereka menggunakan leading questions dan pengalaman yg direncanakan spt bermain peran.

 

D.    Behavioral Therapies

Merupakan action therapies yang berdasarkan prinsip-prinsip dari classical dan operant conditioning dan bertujuan untuk mengubah gangguan perilaku tanpa focus pada penyebab aslinya.

1.      Therapies Based on Classical Conditioning

a.     Systematic Desensitization

Merupakan teknik perilaku yang digunakan untuk mengobati fobia yang mana klien diminta untuk membuat daftar ketakutan yang teratur dan diajarkan untuk bersantai sambil berkonsenterasi pada ketakutan tersebut.

b.     Aversion Therapy

Merupakan bentuk terapi perilaku yg mana perilaku yg tidak diinginkan akan dipasangkan dengan stimulus yg tidak diinginkan untuk mengurangi frekuensi dari  perilaku tersebut.

c.      Exposure Therapy

Merupakan teknik perilaku yg mengekspos individu pada kecemasan atau stimulus ketakutan yg berkaitan, dibawah control, guna mempromosikan pembelajaran baru

2.      Therapies Based on Operant Conditioning

a.     Modelling

Ini berarti belajar melalui mengobservasi[AM1]  dan meniru orang lain

b.     Using Reinforcement

Merupakan respon penguatan dengan mengikuti beberapa konsekuensi yg menyenangkan (penguatan positif) atau penghapusan stimulus yg tidak menyenangkan (penguatan negative)

c.      Using Extinction

Dalam memodifikasi perilaku, operant extinction sering melibatkan menghilangkan perhatian seseorang Ketika orang tersebut terlibat dalam perilaku yg tidak pantas atau tidak diinginkan

d.     Behavioral Activation

Merupakan intervensi berbasis operant yang berhasil digunakan dengan depresi. Individu dengan depresi dapat membatasi keterlibatan mereka dengan orang lain atau aktivitas khas yang biasanya mereka lakukan. Perilaku menghindar ini membatasi kesempatan mereka untuk diperkuat secara positif melalui kegiatan sosial atau pengalaman yang menyenangkan. Aktivasi perilaku melibatkan pengenalan Kembali individu ke lingkungan dan rutinitas reguler mereka sebagai salah satu cara untuk meningkatkan peluang untuk penguatan positif

E.    Cognitive Therapies

Terapi ini dikembangkan oleh Aaron T.Beck. terapi ini focus untuk membantu orang-orang mengganti cara mereka berpikir. Daripada focus pada perilaku, terapis kognitif focus pada pemikiran yg terdistorsi dan keyakinan yag tidak realistis yg mengarah pada perilaku maladaptive, terutama distorsi yg berkaitan dengan depresi.

Berikut beberapa distorsi pemikiran yang lebih umum yang dapat membentu perasaan negative dan keyakinan yang tidak realistis pada seseorang:

o   Arbitrary inference, mengacu pada “jumping to conclusion” tanpa adanya bukti. “Arbitary” ini berarti memutuskan sesuatu berdasarkan tidak lebih dari keinginan pribadi. Misalnya Ani membatalkan acara nonton dengan kita, aku berani bertaruh bahwa Ani sedang menonton dengan orang lain.

o   Selective Thinking, pada selective thinking, orang-orang focus hanya pada satu aspek dari suatu situasi, meninggalkan fakta-fakta relevan lainnya yang mungkin membuat hal tersebut lebih positif (kurang negative). Misalnya Ketika Ani membuat lima masakan untuk keluarganya dan keluarganya menikmati makanan yang ia buat, namun ada satu makanan yang dikomentari oleh keluarganya karena rasanya terlalu asin. Ani merasa makanan yg ia buat tidak enak karena satu komentar dari keluarganya dan ia mengabaikan poin dimana keluarganya menikmati makanannya.

o   Overgeneralization, disini seseorang menarik kesimpulan menyeluruh dari satu kejadian dan berasumsi bahwa kesimpulannya berlaku untuk semua bidang kehidupan bahkan yg tidak ada kaitan dg peristiwa aslinya. Misalnya, Saya dimarahi oleh bos saya. Pacarku akan putus denganku dan menendangku keluar dari apartemen—akhirnya aku akan tinggal di sebuah van di tepi sungai

o   Magnification dan Minimization, dimana seseorang itu meniupkan hal-hal buruk diluar proporsi, sementara tidak menekankan hal-hal baik. Misalnya Seorang siswa yang telah menerima nilai bagus di setiap ujian lain percaya bahwa C yang dia dapatkan di kuis terakhir berarti dia tidak akan berhasil di perguruan tinggi.

o   Personalization, dimana ddindivu menganbil tanggung jawab atau menyalahkan diri karena kejadian yang tidak berkaitan dengan individu tersebut. Ketika teman sebangku Ani yang baru sampai di sekolah merasa badmood karna suatu hal dirumahnya, Ani akan berasumsi bahwa teman sebangkunya sdg marah padanya.

F.     Group Therapies

Terapi ini melibatkan kelompok kloen dengan permasalahan yg serupa dan berkumpul untuk mendiskusikan masalah mereka dg diawasi oleh terapis. Tujuan dari terapi ini adalah untuk membagi masalah dan menyediakan dukungan secara social dan emosional satu sama lainnya.

Beberapa bentuk terapi kelompok:

o   Family Counseling (Family Therapis), merupakan, bentuk terapi kelompok yg mana anggota keluarga bertemu satu sama lain dengan seorang konselor atau terapisuntuk menyelesaikan masalah yg mempengaruhi seluruh keluarga. Tujuan dari terapi keluarga ini adalah untuk menemukan cara yang tidak sehat dimana anggota keluarga berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lainnya dan mengubah cara tersebut menjadi sarana interaksi yg lebihh sehat dan lebih produktif.  Terapi keluarga tidak hanya dengan keluarga, tetapi juga berlaku bagi pasangan yg berkomitmen dg tujuan meningkatkan komunikasi, membantu pasangan untuk mempelajari cara yg lbh baik dalam menyelesaikan masalah dan ketidaksesuaian, hingga meningkatkan rasa ketertarikan dan kedekatan emosional.

o   Self-Help Groups yang mana kelompok yang isinya orang-orang dengan permasalahan yg sama lalu saling bertemu tanpa terapis atau konselor untuk keperluan diskusi, pemecahan masalah,serta dukungan social dan emosional.

G.    Psychotherapy Efectiveness

Survey membuktikan bahwa orang-orang yg sudah menerima psikoterapi merasa bahwa mereka telah dibantu. Studi menemukan bahwa psikoterapi ini lebih efektif untuk beberapa gangguan, tetapi tidak ada satupun psikoterapi yg dapat lbh efektif dan works pada semua permasalahan.

1.      Common Factors Approach

Merupakan pendekatan modern untuk eklektisisme dan focus pada factor-faktor  yang umum untuk untuk menyukseskan uotcomes dari bentuk terapi lainnya.

2.      Evidence-Based Treatment

Atau disebut juga “empirically supported treatment” ygg mana mengacu intervensi, strategi atau teknik yang ditermukan untuk mem[roduksi terapeutik dan perubahan yg diinginkan selama dikendalikan suatu penelitian.

H.    Biomedical Therapy

1.      Psychopharmacology

Menggunakan obat untuk mengotrol atau meringankan gejala dari ganguan psikologis.

a.     Antipsychotic Drugs

o   Mengobati gejala psikotik seperti halusinasi, delusi, dan perilaku aneh

o   Termasuk antipsikotik tipikal, antipsikotik atipikal, dan agonis dopamin parsial

o   Bekerja dengan memblokir reseptor dopamin tertentu di otak

o   Penggunaan jangka panjang memiliki berbagai risiko, baik perilaku maupun kognitif

b.     Anxiety Drugs

o   Mengatasi kecemasan dan gangguan terkait termasuk anak di bawah umur

o   Obat penenang (benzodiazepine) memiliki efek sedative juga berpotensi mengalami kecanduan dan penyalahgunaan

o   Obat antidepresan juga digunakan untuk mengobati gangguan kecemasan

c.      Mood-Stabilizing Drugs

o   mengatasi episode manik yang terkait dengan gangguan bipolar

o   paling umum adalah lithium mungkin juga termasuk antikonvulsan dan antidepresan

d.     Antidepressant Drugs

o   digunakan untuk mengobati gejala depresi dan termasuk

o   inhibitor monoamine oksidase (MAOIs), antidepresan trisiklik, dan selektif, inhibitor reuptake serotonin (SSRI)

2.      Electro Conclusive Therapy

o   Masih digunakan untuk mengobati depresi berat dan beberapa gangguan lain yang belum menanggapi bentuk pengobatan lain yang melibatkan penerapan sengatan listrik dan kejang yang dihasilkan

o   Tampaknya menormalkan keseimbangan neurotransmiter di dalam otak

o   Efek samping tradisional (kehilangan memori ekstrem, patah tulang) telah diminimalkan oleh tingkat arus yang lebih rendah dan penggunaan pelemas otot dan anestesi

3.      Psychosurgery

o   Hanya digunakan sebagai upaya terakhir, melibatkan pemotongan otak untuk menghilangkan atau menghancurkan jaringan otak yang terkait dengan gejala gangguan mental

o   lobotomi secara luas digunakan pada pertengahan 1900-an hingga pengembangan obat antipsikotik

o   saat ini, cingulotomy anterior bilateral (melibatkan area selektif cingulate gyrus) digunakan, terutama untuk gangguan obsesif-kompulsif; juga telah digunakan dengan depresi dan gangguan bipolar

 

 

 


 [AM1]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengantar dan Klasifikasi Bidang Psikologi

Gangguan Psikologis

Pengaruh Darwin dan Tumbuhnya Tes Mental