Teori Kepribadian

 Teori Kepribadian

A.    Theories of Personality

Kepribadian merupakan suatu bidang di psikologi yang mempelajari terkait beberapa cara untuk menjelaskan sifat-sifat perilaku manusia. Di kepribadian ini, ada beberapa teori yang disampaikan oleh para ahli. Untuk saat ini, teori-teori kepribadian yang disampaikan oleh para ahli dapat membantu kita dalam memahami lebih lanjut tentang sikap manusia. Namun, teori-teori kepribadian seringkali tidak dapat dibuktikan atau tidak dibuktikan sepenuhnya.

Berikut beberapa teori kepribadian:

1.      Trait Theories

Traits atau sifat sangat berguna dalam mendeskripsikan dan membandingkan kepribadian. Teori ini cenderung untuk memiliki sebuah kualitas yang melingkar.

2.      Psychoanalytic Theory

Dengan memperhatikan standar, teori ini sepertinya melebih-lebihkan dampak dari seksualitas dan insting biologis

3.      Humanistic Theory

Kekuatan terbaik manusia adalah atensi atau perhatian yang mereka berikan pada dimensi positif dari kepribadian.

4.      Behaviorist and Social Learning Theories

Teori belajar telah membuktikan sebuah kerangka yang baik untuk penelitian kepribadian. Dari perspektif utama, para behavioris telah membuat upaya terbaik untuk menguji dan memverifikasi ide-ide mereka secara ketat

Berikut table terkait perbandingan teori kepribadian

B.    Psychodynamic Perspective

Personality atau kepribadian merupakan cara yang unik dimana individu berpikir, bersikap, dan merasakan sepanjang hidup.

1.      Freud’s Conception of Personality

Freud percaya bahwa kita memiliki lapisan kesadaran didalam pikiran kita.

a.     Struktur dari pikiran

Freud percaya bahwa mind itu dibagi atas tiga bagian, yaitu the preconscious (pra-sadar), conscious (sadar), dan unconscious (tidak sadar). Freud percaya bahwa pikiran tidak sadar merupakan factor penentu yang paling penting dalam perilaku dan kepribadian manusia.

b.     Freud’s divisions of the personality

Berdasarkan observasi dari pasiennya, Freud percaya bahwa personality itu terbagi atas tiga, yaitu:

o   ID = bagian dari kepribadian yang ada sejak lahir dan benar-benar tidak disadari (unconscious)

o   Ego = bagian dari kepribadian yang mengembangkan kebutuhan untuk sesuai dengan kenyataan. Umumnya conscious (dalam keadaan sadar), rasional, dan logis. Ego bekerja berdasarkan prinsip realitas (reality principle), yaitu kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan ID hanya dengan cara-cara yang tidak mengarah pada konsekuensi negative.

o   Superego = bagian dari kepribadian yang berperan sebagai pusat moral

Bagaimana ketiga bagian dari kepribadian bekerja?

o   ID bisa diibaratkan sebagai iblis kecil, yg berarti dapat membuat suatu tuntutan

o   Superego diibaratkan sebagai sebuah malaikat, yang berarti superego ini meletakkan Batasan terkait bagaimana tuntutan dari ID tadi dipenuhi

o   Ego diibaratkan sebagai manusia ataupun hewan, atau diri kita sendiri. Ego ini datang dengan rencana yang akan menenangkan ID, namun juga dapat memuaskan superego.

2.      Tahapan Perkembangan Kepribadian

a.     Oral Stage (18 bulan pertama), pada tahapan ini, bayi menyukai aktifitas yang berorientasi pada mulut, seperti menghisap

b.     Anal Stage (18 hingga 36 bulan), pada tahapan ini, zona sensitive seksual nya berpindah dari mulut ke anus

c.      Phallic Stage (3 hingga 6 tahun), pada masa ini, anak mulai menemukan perasaan seksual

d.     Latency Stage (6 tahun hingga ubertas), pada tahapan ini perasaan seksual anak ditekan sementara menuju alam bawah sadar (unconscious) selagi si anak berkembang dengan cara lainnya.

e.      Genital Stage (masa pubertas), pada tahapan ini dorongan seksual Kembali diizinkan ada pada kesadaran dan perlahan individu bergerak menuju perilaku social dan seksual dewasa.

3.      The Neo-Freudians

Merupakan kumpulan dari murid-murid Freud dan pengikut dari perspektif psikoanalisis. Adapun tokohnya:

a.     Carl Jung

o   Jung merupakan tokoh yang tidak setuju dengan Freud tentang sifat dari pikiran bawah sadar.

o   Jung percaya bahwasannya alam bawah sadar itu memegang lebih dari ketakutan, desakan, dan kenangan pribadi.

o   Jung juga percaya bahwa Freud tidak hanya mendeskripsikan alam bawah sadar personal tetapi juga menjelaskan alam bawah sadar kolektif.

b.     Alfred Adler

o   Adler focus pada perasaan inferior dan mencari perasaan superior sebagai dawan dari pentingnya seksualitas.

o   Adler mengembangkan teori bahwa sebagai anak muda, anak-anak tidak berdaya, mereka akan mengembangkan perasaan inferioritas Ketika membandingkan diri mereka dengan orang dewasa yang lebih kuat, lebih superior di dunia mereka.

o   Adler juga mengembangkan teori bahwa urutan kelahiran anak, berpengaruh pada kepribadiannya.

c.      Karen Horney

o   Horney tidak setuju dengan pandangan Freudian tentang perbedaan antara pria dan Wanita

o   Horney tidak focus pada seksualitas, melainkan pada kecemasan dasar yang terbentuk pada anak yang lahir di dunia yang lebih besar dan lebih kuat dari anak itu sendiri

o   Anak-anak yang mendapatkan Pendidikan yang kurang aman akan mengalami “neurotic personality”. Sebaliknya, anak-anak yang di berikan cinta, kasih saying, serta rasa aman akan dapat mengatasi kecemasan.

o   Dalam mengatasi kecemasan yang dialaminya, menurut Horney seorang anak akan bergerak ke orang-orang, menjadi ketergantungan dan melekat dengan orang lain

o   Selain itu, mereka juga bisa menjadi anak yang agresig, menuntut, bahkan kejam

o   Cara lainnya yang dilakukan untuk mengatasi kecemasan adalah menjauh dari orang-orang dengan menarik diri dari hubungan pribadi

d.     Erik Erikson

o   Merupakan seorang guru senin yang menjadi psikoanalis melalui belajar dengan Anna Freud

o   Erikson lebih menekankan pada hubungan social yang penting di setiap tahap kehidupan.

C.    The Behavioral and Social Cognitive View of Personality

1.      Learning Theories

Behavioral = para peneliti yang menggunakan prinsip conditioning untuk menjelaskan aksi dan reaksi dari manusia dan hewan

Social cognitive theory = para peneliti yang menekankan pengaruh dari factor social dan kognitif dalam pembelajaran.

a.     Bandura’s Reciprocal Determinism and Self-Efficacy

Bandura percaya bahwa ada tiga factor yang mempengaruhi satu sama lain dalam menentukan pola perilaku yang membentuk kepribadian. Adapun tiga factor tersebut adalah:

o   Lingkungan

o   Perilaku itu sendiri

o   Kepribadian atau factor kognitif yang mereka bawa dalam situasi dari pengalaman sebelumnya

Ketiga factor ini saling mempengaruhi dua lainnya secara timbal balik. Hubungan ini disebut dengan “reciprocal determinism” atau determinisme timbal balik.

Selain itu, hal lainnya yang disorot dari bahasan Bandura adalah Self-efficacy. Self-efficacy ini merupakan ekspetasi seseorang terkait seberapa efektif usahanya untuk mencapai tujuan akan berada pada keadaan tertentu. Konsep self-efficacy ini tidak sama dengan konsep self-esteem. Self-efficacy ini bisa tinggi dan rendah tergantung beberapa ha, yaitu:

o   Apa yang terjadi pada kondisi yang sama dimasa lalu (berhasil atau gagal)

o   Apa yang disampaikan orang lain terkait kompetensinya, dan

o   Penilaian mereka terhadap kemampuan mereka sendiri.

Menurut bandura, orang-orang dengan efikasi diri yang tinggi akan lebih gigih dan mengekspektasikan kesuksesan, sedangkan mereka dengan efikasi diri rendah, akan mengekspektasikan kegagalan dan cenderung menghindari tantangan.

b.     Rotter’s Social Learning Theory: Expectancies

Julian Rotter Menyusun teori berdasarkan prinsip dasar motivasi, yang berasal dari hukum efek Thorndike, yaitu orang-orang akan termotivasi untuk mencari “reinforcement” dan menghindari “punishment”.  

Salah satu pola respons yang penting dalam pandangan Rotter yang menjadi “concept of locus of control”. Dimana kecenderungan orang untuk berasumsi bahwa mereka memiliki kendali atau tidak memiliki kendali terhadap peristiwa dan konsekuensi dalam hidup mereka. Control locus ini terbagi dua, yaitu:

o   Internal locus control = Ketika orang berasumsi bahwa aksi dan keputusan mereka berdampak pada konsekuensi yang mereka alami.

o   Eksternal locus control = Ketika orang berasumsi bahwa hidup mereka lebih dikontrol oleh orang lain yang lebih kuat, keberuntungan, atau takdir.

Menurut Rotter, ada dua factor kunci yang mempengaruhi keputusan seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu yang diberikan situasi tertentu, yaitu:

o   Expectancy (ekspektasi) = mengarah pada perasaan subjektif seseorang bahwa perilaku tertentu akan mengarah pada konsesuensi yang menguatkan. Ekspektasi yang besar untuk sukses sama dengan self efikasi yang tinggi dan juga berdasarkan pengalaman terdahulu dengan kesuksesan dan kegagalan.

o   Reinforcement value = mengarah pada pilihan individu untuk reinforcer tertentu diantara semua konsekuensi penguatan yang mungkin.

D.    The Third Force: Humanism and Personality

1.      Carl Rogers and the Humanistic Perspective

Perspektif humanistic ingin psikologi itu focus pada hal yang membuat seseorang itu menjadi manusia yang unik, seperti emosi subjektif dan kebebasan untuk memilih takdirnya sendiri. Perspektif humanistic ini dipimpin oleh psikolog seperti Carl Rogers dan Abraham Maslow. Maslow dan Rogers perccaya bahwa manusia itu selalu berusaha untuk memenuhi kapasitas dan kemampuan bawaannya dan menjadi apapun yang memungkinkan oleh potensi genetic mereka. Usaha untuk memenuhi semua itu disebut dengan “self-actualizing tendency” atau kecenderungan aktualisasi diri.

a.     Real and Ideal Self

o   Real self = persepsi actual seseorang tentang karakteristik, traits, dan kemampuan yang membentuk dasar usaha untuk aktualisasi diri

o   Ideal self = persepsi tentang apa yang seseorang harus lakukan atau ingin lakukan

o   Rogers percaya Ketika real self-dan ideal self sangat dekat atau serupa satu sama lain, seseorang akan meresa cakap dan mampu

o   Ketika ada ketidak serasian antara real self dan ideal self, maka akan terjadi kecemasan dan neorotic perilaku.

b.     Conditional and Unconditional Positive Regard

o   Rogers mendefinisikan positive regard (hal positif) sebagai kehangatan, kasih saying, cinta, dan rasa hormat yang berasal dari orang terdekat (spt orang tua, teman, atau guru) dalam pengalaman seseorang

o   Positive regard adalah hal yang sangat penting bagi manusia dalam melakukan coping stress dan usaha untuk mencapai aktualisasi diri

o   Unconditional positive regard, atau cinta, afeksi, dan respect tanpa adanya ikatan itu penting bagi seseorang untuk mempu mengeksplor sepenuhnya apa yang bisa mereka capai dan menjadi seperti apa.

o   Fully functioning person = orang yang mampu mengalami secara utuh hal yang dirasakan dan mempersilakan kesadaran mengiringi secara bebas hal-hal yang dialami

o   Menurut Maslow, aktualisasi diri adalah tujuan yang selalu kita usahakan untuk tercapai

o   Menurut Rogers, hanya orang-orang yang fully functioning yang mampu untuk mencapai tujuan untuk aktualisasi diri.

E.    Trait Theories

Trait theories merupakan suatu teori yang berusaha menjelaskan tentang sifat-sifat yang membentuk kepribadian manusia dalam upaya memprediksi perilaku di masa depan

1.      Allport And Cattell: Early Attempts to List and Describe Traits

Trait merupakan cara berpikir, merasakan, dan berperilaku yang konsisten.

a.     Allport

o   Allport dan teman kuliahnya menemukan 18.000 kata dari kamus yang bisa dijadikan traits, lalu menyeleksi nya hingga menjadi 200 trait yang ia temukan.

o   Allport percaya bahwa sifat-sifat ini secara harfiah terhubung ke system saraf untuk memandu perilaku seseorang di berbagai situasi yang berbeda.

o   Allport juga percaya bahwa konstelasi sifat setiap orang itu unik

b.     Cattell and the 16PF

o   Raymond Cattell menemukan dua tipe traits, yaitu surface traits dan sorce traits

o   Surface traits merepresentasikan karakteristik kepribadian yang mudah dilihat oleh orang lain

o   Sorce traits merupakan traits yang lebih dasar yang mendasari surface trait

o   Cattell mengidentifikasi 16 source traits yang meskipun selanjutnya menambahkan 7 lainnya, jadi 23 sorce traits

2.      Modern Trait Theories: The Big Five

Lima dimensi traits disebut dengan five-factor model atau the big five yang mana dapat diingat dengan singkatan “OCEAN”

a.     Openness = dideskripsikan dengan seseorang yang bersedia untuk mencoba hal baru dan terbuka terhadap pengalaman baru

b.     Conscientiousness = mengacu pada motivasi dan organisasi seseorang. Orang-orang yang memiliki nilai tinggi pada dimensi ini akan hati-hati dengan waktu dan barang juga.

c.      Extraversion = extraverts ini berarti orang-orang yang outgoing dan ramah. Istilah extraversion ini digunakan oleh Carl Jung yang percaya bahwa manusia bisa dibagi dalam dua tipe personality, selain extravert ada juga introvert yang mana seseorang introvert itu tidak suka menjadi pusat perhatian dan lebih suka menyendiri.

d.     Agreeableness mengacu pada gaya emosi dasar seseorang, yang mana mereka mungkin bersikap tenang, ramah, dan menyenangkan (pada ujung atas skala) atau bisa jadi galak, pemarah, dan sulit untuk bergaul (pada ujung bawah skala).

e.      Neuroticism mengacu pada kestabilan atau ketidakstabilan emosi. Orang yang khawatir berlebih, terlalu cemas, serta murung akan mendapat skor tinggi pada dimensi ini. Sebaliknya, mereka yang lebih pemarah dan tenang akan memperoleh skor yang rendah.

F.     The Biology of Personality: Behavioral Genetics

Behavioral genetics ini focus mempelajari seberapa banyak kepribadian suatu individu itu dikarenakan sifat-sifat yang diwariskan

1.      Twin Studies

Hasil dari Minnesota twin study  telah mengungkapkan bahwa kembar identic itu lebih mirip daripada saudara biasa dalam kecerdasan, kemampuan, kepemimpinan, kecenderungan mengikuti aturan, dan kecenderungan menjunjung tinggi harapan budaya nasional. Kesamaan ini berlaku jika si kembar dibesarkan di lingkungan yang terpisah.

2.      Adoption Studies

Studi ini mengonfirmasi bahwasannya pengaruh genetic itu memiliki peran yang besar dalam kepribadian seseorang

G.    Assessment of Personality

1.      Interviews, Behavioral Assessments, And Personality Inventories

a.     Behavioral Assessment

Para behaviorist berasumsi bahwa kepribadian itu hanya dipelajari melalui kebiasaan respon terhadap rangsangan yang ada dilingkungan. Adapun metode yang digunakan adalah:

o   observasi langsung. Pada metode ini para psikolog mengamati kliennya.

o   Rating scale, metode ini berarti pemberian peringkat oleh penilai atau oleh klien untuk perilaku tertentu

o   Frequency count, pada metode ini para penilai menghitung frekuensi perilaku tertendu dalam waktu tertentu dan pada batas waktu tertentu

b.     Interviews

Metode ini berarti para terapis menanyakan pertanyaan dan mencatat jawaban dari pertanyaan yang diajukan. Interview ini tidak seperti interview kerja, tetapi interviewnya mungkin saja tidak terstruktur dan mengalir begitu saja antara klien dan psikolog. Beberapa ahli mungkin menggunakan semi-struktur interview yang memiliki pertanyaan spesifik dan berdasarkan respon individu, petunjuk untuk mem-follow up item, hamper sama dengan decision tree atau diagram flow.

c.      Personality Inventories

o   Merupakan kuisioner dengan daftar pertanyaan yang jawabannya spesifik seperti “ya”, “tidak”, atau “tidak dapat memutuskan”.

o   Penilaian ini lebih efektif daripada tes proyektif

o   Contohnya Adalah Minnesota Multiphasic Personality Inventory, the Eysenck Personality Questionnaire, the Keirsey Temperament Sorter II, the California Psychological Inventory, and the Sixteen Personality Factor Questionnaire.

2.      Projective Test

Merupakan assessment kepribadian yang menyajikan rangsangan visual yang ambigu pada klien dan meminta klien untuk merespon dengan apapun yang terlintas dipikiran mereka.

a.     The Rorschach Inkblots

Merupakan test yang menggunakan 10 inkblots dengan 5 diantaranya dengan tinta hitam pada background putih dan 5 lainnya dengan tinta berwarna pada background putih. Para psikolog menilai tanggapan klien dengan factor kunci, seperti referensi warna, bentuk, angka yang terlihat pada noda, dan respons terhadap keseluruhan atau detail.

b.     The TAT (Thematic Apperception Test)

Pada test ini disediakan 20 gambar yang semuanya hitam putih. Pada kliend diminta untuk menceritakan sebuah cerita terkait seseorang pada gambar yang mana memang Digambar di  situasi yang ambigu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengantar dan Klasifikasi Bidang Psikologi

Gangguan Psikologis

Pengaruh Darwin dan Tumbuhnya Tes Mental