Perkembangan Awal Psikologi Modern

 PERKEMBANGAN AWAL PSIKOLOGI MODERN

A.     Era Wundt

1.      Tujuan Psikologi Wundt

Psikologi menurut Wundt bahwa faktanya merupakan ilmu eksperimental Wundt percaya bahwa eksperimen dapat digunakan untuk mempelajari proses dasar pikiran.

2.      Pengalaman Langsung dan Tidak Langsung

Ketika ilmu lain dapat diperoleh melalui pengalaman tidak langsung, psikologi harus berdasarkan dengan pengalaman langsung.  Ada 2 tujuan utama yang ditetepkan Wundt dalam eksperimen psikologinya, yaitu :

·       Untuk menemukan dasar dari pemikiran

·       Untuk menemukan hukum yang dengannya, elemen mental bergabung menjadi mental yang lebih kompleks pengalaman

3.      Penggunaan metode intropeksi Wundt

Metode ini fokus pada pengalaman yang kita sadari dan dengan negitu metode ini hanya dapat digunakan oleh orang yang mengalami pengalaman itu sendiri.

4.      Elemen Pemikiran

Menurut Wundt ada 2 tipe dasar dari pengalaman mental :

·       Sensasi, digambarkan lewat modalitas (penglihatan, pendengara, dsb) dan digambarkan lewat intensitas (seberapa keras stimulus pendengaran)

·       Perasaan, Wundt menyimpulkan bahwa perasaan apapun dapat dijelaskan dalam hal derajat yang dimana mereka memiliki 3 atribut, yaitu :

o   Kesenangan-ketidaknyamanan

o   Kegembiraan-tenang

o   Ketegangan-relaksasi

5.      Persepsi, Apersepsi, dan Sintesis Kreatif

·       Persepsi = proses pasif yang dipengaruhi oleh rangsangan fisik, susunan anatomi individu, dan pengalaman masa lalu individu yang saling berinteraksi yang menghasilkan suatu bidang persepsi individu pada waktu tertentu

·       Apersepsi = saling terkait dengan perhatian, dimana apa yang diperhatikan dapat dipahami serta bersifat aktif dan sukarela yang berasal dari bawah kendali individu

·       Sintesis kreatif = kondisi dimana ketika elemen-elemen yang diperhatikan dapat diatur ulang sesuai dengan keinginan individu dan karena hal itu pengaturan yang belum pernah dialami sebelumnya dapat terjadi.

6.      Kronometri Mental

Wundt mengungkapkan bahwa waktu reaksi dapat sebagai pelengkap dalam intropeksi sebagai teknik mempelajari isi unsur dan aktivitas pikirian. Wundt dengan menggunakan metode Donders ingin meunjukkan kronometri mental atau pembuatan katalog waktu reaksi yang akurat agar bisa melakukan berbagai tindakan mental. Namun pada akhirnya ia meninggalkan studi waktu reaksi tersebut dikarenakan ia menemukan bahwa waktu reaksi sangat bervariasi baik itu dalam satu studi ke studi lainnya, dari subjek ke subjek, dan ia sering menemukan subjek yang sama dalam waktu yang berbeda.

7.      Penyebab Psikologi Versus Fisik

Tiga prinsip tidak mungkinnya memprediksi kejadian psikologis menurut Wundt :

·       Prinsip heterogoni tujuan (aktivitas yang dimaksudkan untuk tujuan, jarang untuk tercapainya tujuan tersebut sedangkan sesuatu yang tidak terduga dapat hampir selalu terjadi. Dikarenakan hal tersebut dapat mengubah pola motivasi seseorang)

·       Prinsip kontras (Wundt menegaskan bahwa pengalaman yang saling berlawanan dapat saling menguatkan)

·       Prinsip menuju pengembangan yang berlawanan (ia menyatakan bahwa pengalaman yang lama dari suatu jenis pengalama tertentu dapat menjadi kecenderungan yang meningkat untuk mencari pengalaman lain yang berlawanan)

8.      Völkerpsychologie

Wundt percaya bahwa proses mental yang lebih tinggi yang tercermin dalam budaya manusia hanya dapat dipelajari dengan analisis sejarah dan observarsi naturalistik yang disimpulan dari studi produk budaya seperti mitos, agama, adat istiadat sosial, sejarah, bahasa, moral, seni, dan hukum.

Adapun proses tiga tahap komunikasi verbal menurut Wundt adalah

·       Pembicara harus memahami kesan umumnya sendiri

·       Pembicara memilih kata dan struktur kalimat untuk mengungkapkan kesan umum

·       Pendengar, setelah mendengar kata dan kalimat, harus memahami kesan umum pembbicara

 

B.      Era Edward  B. Titchener

1.      Titchener’s Paradoxical Relationship with Female Psychologists

APA (American Psychological Association) menerima wanita sebagai anggota sejak awal, tetapi ketika "The Experimentals" dari Titchener muncul, wanita jadi tidak diikutsertakan hingga reorganisasi dua tahun setelah kematian Titchener 1929

2.      Tujuan Psikologi menurut Titchener

·       Menurutnya, psikologi mempelajari tentang pengalaman langsung (kesadaran)

·       Kesadaran = jumlah pengalaman mental pada saat tertentu ; pikiran = akumulasi pengalaman seumur hidup

·       Jadi menurutnya tujuan psikologi adalah untuk penentuan apa, bagaimana, dan mengapa kehidupan mental

·       Titcher fokus pada peristiwa sadar yang bisa diamati

3.      Elemen Mental

Atribut elemen menurut Titchener :

·       Sensasi dan gambaran (sisa-sisa sensasi) adalah kualitas, intensitas, durasi, kejernihan, dan keluasan

·       Ekstensitas adalah kesan bahwa sensai atau citra sedikit banyak tersebar di ruang angkasa

·       Afeksi dapat memiliki atribut kualitas, intensitas, dan durasi, tetapi bukan kejelasan atau keluasan

4.      Hukum Kombinasi

Setelah Titchener mengisolasi elemen-elemen pemikiran, langkah selanjutnya adalah menentukan bagaimana mereka bergabung untuk membentuk proses mental yang lebih kompleks. Dalam menjelaskan bagaimana elemen pemikiran bergabung, Titchener menolak gagasan Wundt tentang apersepsi dan sintesis kreatif yang mendukung asosiasiisme tradisional. Titchener (1910) menjadikan hukum kedekatan sebagai hukum dasar asosiasi.

5.      Korelasi Neurologis Peristiwa Mental

Pada dasarnya, Titchener percaya bahwa proses fisiologis menyediakan substrat berkelanjutan yang memberikan proses psikologis kontinuitas yang tidak akan mereka miliki. Menurut Titchener, meskipun sistem saraf tidak menyebabkan kejadian mental, sistem ini dapat digunakan untuk menjelaskan beberapa karakteristiknya.

6.      Teori Konteks Makna

Titchener sekali lagi melibatkan asosiasisme, Sensasi tidak pernah terisolasi.  Sesuai dengan hukum kedekatan, setiap sensasi cenderung memunculkan gambaran sensasi yang sebelumnya dialami bersama sensasi tersebut. Sensasi yang hidup atau sekelompok sensasi membentuk inti, dan gambar yang muncul membentuk konteks yang memberi arti inti.

7.      Penurunan strukturalisme

Pada dasarnya, strukturalisme adalah upaya untuk mempelajati apa yang menjadi perhatian filosifi di masa lalu secara ilmiah. Titchener bersikeras bahwa dia mencari pengetahuan murni dan tidak peduli dengan penerapan prinsip-prinsip psikologi untuk memecahkan masalah-masalah praktis. Hal paling penting bagi kehancuran strukturalisme adalah ketidakmampuannya untuk mengasimilasi salah satu perkembangan terpenting dalam sejarah manusia- doktrin evolusi

 

C.    Era Lainnya

1.    Franz Clemens Brentano ( 1838–1917)

·       Bretano sependapat dengan wundt tentang batasan psikologi eksperimental, percaya bahwa terlalu menekankan eksperimen akan mengalihkan perhatian peneliti dari isu-isu penting.

·       Pandangan Brentano disebut psikologi tindakan karena keyakinannya bahwa proses mental ditujukan untuk melakukan suatu fungsi. Seperti menilai, mengingat, mengharapkan, menyimpulkan, meragukan, mencintai, membenci, dan berharap.

·       Intensionalitas untuk menjelaskan fakta bahwa setiap tindakan mental menggabungkan sesuatu di luar dirinya.

2.      Carl Stumpf (1848-1936)

Stumpf spendapat dengan Brentano bahwa peristiwa mental harus dipelajari sebagai unit yang bermakna, seperti yang terjadi pada individu dan tidak boleh dipecah untuk analisis lebih lanjut, objek studi psikologinya adalah fenomena mental

3.      Fenomena Smart Hans (Zusne & Jones, 1989)

Rosenthal menemukan bahwa pelaku eksperimen dapat memberikan isyarat kecil tanpa disadari sehingga memengaruhi hasil percobaan. Pengaruh seperti itu pada hasil eksperimen disebut "bias eksperimen" atau "Efek Rosenthal". cara untuk meminimalkan efek ini adalah dengan menggunakan prosedur tersamar ganda di mana baik eksperimen maupun peserta tidak mengetahui kondisi eksperimental mana yang menempatkan peserta.

4.      Edmund Husserl (1859-1938)

Husserl berpendapat bahwa taksonomi pikiran penting sebelum adanya psikologi ilmiah. Menurut Husserl untuk melakukan eksperimen yang melibatkan proses (spt memori atau persepsi) harus terlebih dahulu tahu esensi dari kegiatan tersebut. Selain itu, kita harus memahami pikiran kita dahulu sebelum mempelajari bagaimana pikiran tersebut merespons objek-objek luarnya.

5.      Oswald Külpe ( 1862–1915)

Külpe tidak setuju dengan Wundt bahwa semua pikiran harus memiliki referensi khusus — yaitu sensasi, citra, atau perasaan. Külpe berpendapat bahwa ada beberapa pemikiran tanpa imajinasi atau bayangan. Ia juga tidak setuju dengan pendapat Wundt bahwa proses mental yang lebih tinggi tidak dapat dipelajari secara eksperimental. Lebih lanjut, Külpe mulai menggunakan introspeksi eksperimental sistematis.

6.      Hans Vaihinger ( 1852–1933)

Vaihinger setuju bahwa satu-satunya yang dapat diyakini adalah sensasi. Ia menambahkan bahwa dalam kehidupan bermasyarakat, sensasi perlu diberi makna dan kita melakukannya dengan menciptakan teori, konsep dan istilah. Lalu bersikap seolah-olah itu benar. Namun, Vaihingir juga berpendapat bahwa suatu konsep bisa salah dan tetap mempunyai manfaat.

7.      Hermann Ebbinghaus ( 1850–1909)

Sejalan dengan Külpe, Ebbinghaus juga tidak setuju dengan Wundt, ia menunjukkan bahwa Wundt salah dalam mengatakan bahwa proses mental yang lebih tinggi tidak dapat dipelajari secara eksperimental. Melalui materi yang “tidak masuk akal”, Ebbinghaus secara sistematis mempelajari pembelajaran dan memori dengan sangat teliti sehingga kesimpulannya masih dikutip dalam teks psikologi.

 Annisa Melati Putri Wijaya

2110322021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengantar dan Klasifikasi Bidang Psikologi

Gangguan Psikologis

Pengaruh Darwin dan Tumbuhnya Tes Mental