Motivasi dan Emosi
Emosi dan Motivasi
A. APPROACHES TO UNDERSTANDING
MOTIVATION
1. Defining Motivation
Kata motivasi berasal dari Bahasa latin “movere” yang artinya berpindah
atau bergerak. Artinya sebuah “bergerak” untuk melakukan hal hal yang ingin
dilakukan. Misalnya Ketika kita sedang belajar, lalu kita merasakan haus, nah
kebutuhan fisiknya berupa haus ini membuat dia berdiri dan mencari air yang
bisa ia minum. Intinya motivasi ini merupakan suatu proses yang menyebabkan
suatu aktivitas itu dimulai, diarahkan, dan diteruskan sehingga terpenuhinya
kebutuhan fisik atau psikologis kita.
Nah
motivasi ini terdiri atas beberapa tipe, yaitu extrinsic motivation dan
intrinsic motivation
a. Extrinsic motivation = tipe
motivasi yang terjadi karena outcomes yang akan didapatkan oleh orang tersebut
(eksternalnya orang tersebut). Misalnya seorang anak yang termotivasi untuk
belajar dengan sungguh sungguh agar mendapatkan sepeda Ketika ia menjadi juara
kelas.
b. Intrinsic motivation = tipe
motivasi yang dimana seseorang iitu melakukannya karena keinginannya sendiri,
seperti karna hal tersebut menyenangkan, memuaskan, atau bahkan menantang.
Misalnya seseorang yang termotivasi untuk membagikan Sebagian rezekinya karena
hal itu membuat ia merasa senang.
2. Early Approaches to
Understanding Motivation
a. Instincts dan pendekatan
evolusionari
Instincts merupakan suatu upaya untuk memahami motivasi yang focus pada
pola perilaku yang ditentukan secara biologis dan bawaan. William McDougall menyatakan bahwa ada total
18 instincts yang dimiliki manusia, termasuk rasa ingin tahu (curiosity),
flight (running away), pugnacity (agresivitas), dan acquisition (akuisisi).
Pendekatan instincts ini sudah memudar karena walaupun pendekatan ini
bisa mendeskripsikan perilaku manusia, tetapi pendekatan ini tidak bisa
menjelaskannya lebih lanjut. Tetapi dari pendekatan ini kita mengetahui bahwa
beberapa perilaku manusia dikontrol oleh factor hereditas.
b. Drive-reduction theory
Merupakan pendekatan motivasi yang beranggapan bahwa perilaku itu muncul
dati kebutuhan psikolos yang menyebabkan adanya internal drives yang medorong
organisme untuk memuaskan need itu dan mendaur ulang tekanan dan gairah.
Drive-reduction theory ini focus pada konsep dari “needs dan drives”. Need
merupakan kebutuhan pada beberapa metarial (seperti makanan dan air) yang
dibutuhkan untuk kelangsungan hidup organisme. Sedangkan drive merupakan suatu
tekanan psikologi dan gairah fisik yang terjadi Ketika ada “needs” yang
memotivasi organisme untuk melakukan sesuatu dalam rangka memenuhi “need” tadi
dan mendaur ulang tekanan tersebut.
Pada
teori ini, ada dua jenis driver, yaitu Primary drives dan acquires (secondary)
drives.
o
Primary drives = jenis drives yang didalamnya terdapat kebutuhan tubuh
(needs of body) seperti lapar dan haus.
o
Secondary drives = jenis drives yang dipelajari melalui pengalaman atau
kondisi, seperti kebutuhan terhadap uang atau social approval
3. Psychological Needs
a. McClelland’s theory:
affiliation, power, and achievement needs
o
Affiliation needs = menurut McClelland, affiliation needs merupakan
kebutuhan psikologis manusia terhadap interaksi social yang ramah dan hubungan
dengan orang lain. Orang orang dengan kebutuhan afiliasi yang tinggi, biasanya
akan berusaha untuk disukai oleh orang lain.
o
Need for power (nPow) = power bukan tentang mencapai tujuan kita tetapi
tentang memiliki control atas orang lain. Jadi need for power disini berarti
kebutuhan untuk memiliki kendali atas orang lain. Orang-orang yang memiliki
kebutuhan power yang tinggi akan mempengaruhi orang lain dan memberikan dampak
kepada orang yang ia pengaruhi itu. Mereka juga ingin hanya ide mereka yang
digunakan tanpa memedulikan apakah ide mereka akan berhasil atau tidak.
o
Need for achievement (nAch) = merupakan suatu kebutuhan yang didalamnya
terdapar keinginan yang tinggi untuk berhasil mencapai tujuan, bukan hanya
secara realistic tetapi juga secara menantang. Orang-orang dengan kebutuhan
achievement yang tinggi akan cenderung mencari pekerjaan dan hobi yang mengizinkan
orang lain mengevaluasi mereka, karena mereka juga membutuhkan feedback dari
apa yang telah mereka lakukan untuk mencapai tujuan mereka. Meskipun kebanyakan
dari mereka yang memiliki kebutuhan tinggi pada achievement ini akan jadi kaya,
ataupun terkenal, tetapi ada juga yang memenuhi tujuan mereka dengan “personal
success” bukan dengan kekayaan meteri, yang dimana mereka hanya menginginkan
tantangannya saja. Motivasi achievement ini biasanya akan muncul Ketika ingin
mencapai kesuksesan disekolah, pekerjaan, dan sebagainya.
4. Arousal dan Incentive
Approaches
a. Arousal theory
Merupakan
teori yang dimana orang mengatakan untuk memiliki tingkat stress yang optimal
lalu mereka terlihat mempertahankannya dengan meningkatkan atau mengurangi stimulasi.
Hubungan antara task performance dan arousal dijelaskan di hukum Yerkes-Dodson.
o
Hukum Yerkes-Dodson ini menyatakan bahwa “Ketika suatu tugas itu
sederhana, maka kita akan memiliki arousal yang tinggi dan mengarah ke kinerja
yang lebih baik, sebaliknya Ketika suatu tugas itu sulit, maka kita akan
memiliki arousal yang rendah sehingga mengarah pada kinerja yang lebih buruk.”
o
Sensastion seeker, merupakan seseorang yang memiliki kebutuhan lebih
tinggi terhadap arousal daripada orang pada umumnya
b. Incentive approaches
Merupakan
teori motivasi yang menjelaskan bahwa perilaku itu merupakan respond dari
stimulus eksternal dan sebagai gantinya, adalah properti yang bermanfaat.
Property yang bermanfaat disini ada secara independent dari kebutuhan atau tingkat
arousal yang menyebabkan seseorang bertindak hanya berdasarkan insentif.
5. Humanistic Approaches
a. Maslow’s hierarchy of needs (Abraham
Maslow)
Pada
teorinya, Maslow menyampaikan bahwa ada beberapa tingkatan kebutuhan yang harus
kita penuhi setiap tahapnya untuk mencapai ditingkat yang tertinggi.
Dari
gambar diatas, kita tahu bahwa tingkatan tertinggi adalah “self-actualization”.
Menurut Maslow, self-actualization ini jarang dicapai, karena kita, manusia
sudah merasa puas ditingkat yang lebih rendah dan sudah merasa mencapai potensi
penuh.
b. Self-determination theory
(sdt) (Richard Ryan and Edward Deci)
Pada
teori dijelaskan bahwa ada tiga kebutuhan bawaan dan universal yang membantu
kita untuk mendapatkan diri kita seutuhnya dan hubungan yang baik dengan orang
lain. Adapun tiga kebutuhan itu adalah :
o
Autonomy = kebutuhan untuk mengontrol perilaku dan tujuan kita sendiri
o
Competence = kebutuhan untuk bisa menguasain tugas atau pekerjaan
menantang pada hidup seseorang
o
Relatedness = kebutuhan untuk merasakan sensasi belonging, intimacy, and
security dalam hubungan dengan orang lain
B. WHAT, HUNGRY AGAIN? WHY
PEOPLE EAT
1. Physiological and Social
Components of Hunger
a. Pengaruh hormonal
Salah
satu factor terjadinya kelaparan adalah respon insulin yang terjadi setelah
kita makan. Insulin dan glokagon merupakan hormone yang disekresi oleh pancreas
untuk mengontrol kadar lemak, karbohidrat, protein, dan juga glukosa didalam
tubuh.
b. Peran hipotalamus
The
ventromedial hypothalamus (VMH) berperan dalam menghentikan respon makan Ketika
kadar glukosa naik. Selanjutnya ada lateral-Hypothalamus (LH) yang terletak
dibagian samping. Lateral hipotalamus ini mempengaruhi onset of eating
(permulaan makan) pada saat ladar insulin meningkat.
c. Weight set point and basal
metabolic rate
Weight set point merupakan tingkatan tertentu dari berat badan yang
mana tubuh mencoba untuk menjaganya. Metabolisme, kemampuan tubuh dalam
membakar lemak, exercise, dan bermain merupakan factor dari weight set point
ini. Sedangkan basal
metabolic rate merupakan kecepatan tubuh dalam membakar energi pada saat
organisme itu sedang beristirahat.
d. Social components of hunger
Terkadang
kita makan bukan karena benar-benar lapar. Sebagian dari kita akan makan Ketika
memang terbiasa melakukan sarapan, makan siang, atau makan malam di waktu
tertentu. Sebagian besar dari konvensi ini merupakan hasil dari classical
conditioning. Factor lain yang mempengaruhi rasa lapar dan kebiasaan makan
adalah factor budaya dan gender.
C. EMOTION
Emosi merupakan sebuah “feeling” dari kesadaran yang
dicirikan oleh arousal fisik tertentu, perilaku tertentu yang mengungkap
perasaan kedunia luar, dan kesadaran batin tentang “feelings”.
1. The Three Elements of
Emotions
a. Fisiologi emosi
o
Secara fisik, Ketika seseorang mengalami emosi, arousal (gairah) nya
akan dibuat oleh sympathetic nervous system.
o
Emosi kita terdiri atas emosi negative dan emosi positif.
o
Diotak kita, emosi negative umumnya diproses di hemisfer kanan sedangkan
emosi positif umumnya diproses di hemisfer kiri
o
Peneliti menemukan bahwa ada bagian otak kita yang khusus untuk
memproses rasa takut, yaitu “amygdala”
b. The behavior of emotion:
emotional expression
o
Ekspresi wajah dapat bervariasi tergantung dengan budaya masing- masing,
tetapi ada beberapa ekspresi wajah yang sepertinya universal
o
Dalam penelitiannya, Ekman and Friesen menyimpulkan bahwa setidaknya ada
7 ekspresi wajah universal (sama di tiap budayanya), yaitu marah, takut,
disgust, terkejut, bahagia, sedih, dan contempt
o
Display rules merupakan cara yang dipelajari untuk tampilan emosi kita
di setting social. Misalnya kita akan mempelajari bagaimana caranya agar tetap
tersenyum didepan public meskipun sedang merasa sedih
o
Display rules ini bisa berbeda di tiap budayanya, serta laki laki dan
perempuan juga memiliki display rules yang berbeda
c. Subjective experience:
labeling emotion
o
Labeling emotion ini maksudnya menginterprestasikan perasaan subjektif
dengan memberikan label, bisa berupa marah, senang, sedih, takut, dan
sebagainya
o
Setidaknya, Sebagian dari label yang diterapkan oleh seseorang itu
merupakan “learned response” yang dipengaruhi oleh Bahasa dan budaya
o
Di tiap budaya bisa saja memiliki label yang berbeda untuk setiap
perasaan subjektif.
2. Early Theories of Emotion
a. James-Lange theory of
emotion
William
James merupakan tokoh yang menyatakan bahwa ia tidak setuju dengan common-sense
viewpoint. James percaya bahwa urutan komponen emosi itu sangat berbeda, disaat
yang sama Carl Lange juga menjelaskan terkait emosi yang sama dengan yang
disampaikan James, itu kenapa teori ini dinamakan “James-Lange Theory”.
Pada
teori James-Lange ini, stimulus yang kita dapatkan mengarah pada arousal tubuh
terlebih dahulu, yang lalu diterjemahkan sebagai emosi.
b. Cannon-bard theory of
emotion
Teori
ini menyampaikan bahwa reaksi psikologis dan emosi itu diasumsikan terjadi
diwaktu yang bersamaan
c. The facial feedback
hypothesis
Teori
ini menyampaikan bahwa ekspresi wajah itu memberikan feedback kepada otak
terkait emosi yang diekspresikan sehingga dapat meningkatkan emosi
Intinya,
Ketika kita merasakan suatu emosi, kita akan memperlihatkan ekspresi seperti
emosi yang sedang kita rasakan, nah hal itu juga berlaku sebaliknya, yaitu Ketika
kita memperlihatkan ekspresi dari suatu emosi, maka kita bisa merasakan emosi
tersebut. Misalnya Ketika kita merasa senang kita akan tersenyum dan Ketika kita
tersenyum kita juga bisa merasa senang.
3. Cognitive Theories of
Emotion
a. Cognitive arousal theory
(two-factor theory) (Schachter and Singer, 1962)
Teori
ini menyampaikan bahwa ada dua hal yang terjadi sebelum munculnya emosi, yaitu
arousal fisik dan labeling arousal berdasarkan isyarat lingkungan sekitar. Dua hal
ini terjadi disaat yang bersamaan dan menghasilkan label dari emosi
b. Lazarus and the
cognitive-mediational theory of emotion
Teori ini
menyatakan bahwa stimulus yang didapatkan harus di interprestasikan oleh seseorang
untuk menghasilkan respon fisik dan reaksi emosi.
Jika ditanya manakah teori emosi yang paling tepat? Jawabannya
semua teori ini benar setidaknya sampai waktu tertentu. Dengan kata lain,
setiap teori ini berlaku sesuai dengan waktunya.
Berikut pembanding setiap teori :
Komentar
Posting Komentar