Kognisi: Thinking, Intelligence, and Language
Kognisi: Thinking, Intelligence, and Language
A. HOW PEOPLE THINK
Thinking atau kognisi merupakan sebuah proses mental
yang bekerja di otak saat seseorang memproses informasi. Informasi tersebut di
susun, di pahami, dan dikomunikasikan kepada orang orang. Pada saat berpikir
kita tidak hanya menyadari atau berfokus pada informasi saja, tetapi kita juga
membuat keputusan, membandingkan informasi itu dengan informasi lainnya, dan
menggunakannya untuk menyelesaiakan masalah.
Dalam proses berpikir itu ada 2 tipe yang sering
disebut system 1 dan system 2. Di system 1 ini kitab isa membuat keputusan
dengan cepat dan menggunakan shortcut cognitive (jalan pintas) yang dipandu
oleh kemampuan bawaan dan pengalaman pribadi kita. Di system 2, itu relative
lambat, perlu menganalisis, dan berdasarkan peraturan yang ada.
1. Mental Imagery
Atau
disebut juga “mental image” merupakan suatu representasi mental yang mewakili
objek atau peristiwa dan memiliki gambar. Atau sebuah representasi mental yang
mencerminkan objek atau pengalaman yg direpresentasikan. Dalam proses pembuatan
mental images, area di korteks berasosiasi dengan stored knowledge dan
mengirimkan informasi ke visual korteks, dimana gambarnya dirasakan oleh mind’s
eye
Untuk
apa kita menggunakan mental images?
a. Membuat keputusan atau
menyelesaikan masalah
b. Merubah perasaan
c. Meningkatkan skill
atau bersiap untuk melakukan sesuatu
d. Aid memory
2. Concept dan Prototype
a. Concept
Merupakan
suatu gambaran atau ide yang merepresentasikan suatu objek, kejadian, atau suatu
aktivitas. Forming concepts merupakan proses pengklasifikasian informasi berdasarkan
kategori maknanya.
Concept
ini terbagi atas beberapa tipe:
·
Conjuctive concepts = objek yang dimana memiliki dua
atau lebih karakteristik
·
Relational concepts = sebuah konsep yang ditentukan
oleh hubungan antara karakteristik dan objeknya atau hubungan antara benda dan
lingkungannya
·
Disjunctive concepts = konsep yang ditentukan oleh
kehadiran setidaknya satu karakteristik
b. Prototypes
Prototypes
merupakan representasi ideal dari skema atau konsep yang kita punya
3. Problem-Solving And
Decision-Making Strategies
Problem
solving merupakan proses kognisi yang terjadi Ketika suatu tujuan harus
tercapai dengan berpikir dan berperilaku dengan cara tertentu. Sedangkan
decision making merupakan proses kognisi yg melibatkan identifikasi, evaluasi,
dan memilih antara beberapa alternatif.
Ada
beberapa cara yang biasanya orang orang pikirkan untuk menyelesaikan masalah:
a. Trial and error
(solusi mekanik) berarti mencoba semua solusi hingga menemukan solusi yang
tepat
b. Algorithms berarti
menyelesaikan masalah tertentu dengan step by step sesuai prosedur. Algorithms
ini selalu menghasilkan penyelesaian yang benar, tetapi membutuhkan waktu yang
cukup banyak
c. Heuristics berarti tebakan
solusi dari suatu masalah berdasarkan pengalaman sebelumnya yang akan membantu
mempersempit kemungkinan solusi untuk suatu masalah.
·
Representative heuristics = kecenderungan
mengklasifikansikan sesuatu sama dengan skema atau konsep yang kita punya
·
Availability heuristics = estimasi frekuensi atau
kemungkinan suatu kejadian berdasarkan seberapa mudah informasi tersebut di
recall dari memory kita atau seberapa mudah kita memikirkan contoh yang
berkaitan dengan informasi tersebut
·
Working backward = suatu strategi yang dimana kita
harus bergerak mundur dari tujuan kita dalam kondisi tertentu
·
Subgoals = menyiapkan tujuan tujuan jangka pendek guna
mendukung tercapainya tujuan utama
·
Insight = kondisi dimana solusi suatu masalah datang
secara tiba tiba ke pikiran kita
4. Problems With Problem
Solving and Decision Making
a. Functional fixedness
Merupakan
sebuah blok atau Batasan untuk pemecahan masalah yang berasal dari pemikiran
terkait ciri khas suatu objek
b. Mental sets
Didefinisikan
sebagai suatu kecenderungan seseorang untuk bertahan pada pola penyelesaian
masalah yang sebelumnya berhasil mereka lakukan. Pola penyelesaian masalah yang
berhasil dilakukan cenderung menjadi cara pertama dalam mencari penyelesaian
suatu masalah.
c. Confirmation bias
Merupakan
suatu kecenderungan seseorang untuk mencari petunjuk yang mereka Yakini dan
mengabaikan petunjuk yang bertentangan
5. Creativity
Merupakan
suatu proses pemecahan masalah yang mengkombinasikan ide atau suatu perilaku
dengan cara yang berbeda
a. Convergent thinking
Suatu
tipe berpikir yang dimana suatu masalah terlihat hanya memiliki satu
penyelesaian dan semua cara berpikir kita pada akhirnya menuju pada satu solusi
itu, menggunakan pengetahuan yang sudah diketahui dan logika
b. Divergent thinking
Merupakan
tipe berpikir yang dimana seseorang memulainya dari suatu point lalu
mengembangkan nya menjadi ide atau kemungkinan-kemungkinan berdasarkan point
tersebut
B. INTELLIGENCE
Intelligence merupakan suatu kemampuan untuk belajar
dari suatu pengalaman, memperoleh pengetahuan, dan menggunakan sumber daya
dengan efektif dalam rangka beradaptasi pada situasi baru atau menyelesaikan
suatu masalah
1. Theories of
Intelligence
a. Charles Spearman
(1904)
Spearman
melihat inteligensi dalam dua kemampuan yang berbeda, yaitu
·
G factor (general intelligence) = kemampuan untuk
bernalar dan memecahkan masalah
·
S factor (specific intelligence) = kemampuan pada
bidang-bidang tertentu yang lebih spesifik, seperti music, seni, bisnis, dan
semacamnya.
b. Howard Gardner
Berpendapat
bahwa ada 9 perbedaan intelegensi:
c. Robert Sternberg
Memiliki
3 teori jenis kepribadian yang disebut “triarchic theory of intelligence”
·
Analytical intelligence = kemampuan untuk memecahkan
masalah menjadi beberapa bagian atau menganalisis suatu masalah untuk
mencapatkan solusinya
·
Creative intelligence = kemampuan untuk sepakat dengan
konsep yang baru dan berbeda untuk mendatangkan cara baru dalam menyelesaikan
suatu masalah
·
Practical intelligence = kemampuan untuk menggunakan
informasi dalam kehidupan
d. Cattell-Horn-Carroll
(Chc) Theory
Komponen
dari teori ini adalah general intelligence yang didalanya terdiri atas 16
kemampuan.
Dari
semua teori inteligensi yang ada, teori CHC ini adalah teori yang paling banyak
diteliti, didikung secara empiric, dan paling komprehensif.
2. Measuring Intelligence
a. Binet’s mental ability
test
Pengukuran
intelegensi ini ditujukan kepada anak-anak yang dimana Binet memutuskan elemen
kunci yang diujinya yaitu usia mental anak, atau usia rata-rata pada anak yang dimana
anak-anak dapat dengan sukses menjawab tingkat pertanyaan tertentu.
b. Stanford-Binet and IQ
Pada pengukuran
ini, hasil dari binet test (berupa usia mental) dibagi dengan usia kronologis
lalu dikalikan dengan 100. Yang dimana hasil dari pengoperasian itu disebuh IQ
(Intelligence quotient).
c. The Wechsler tests
Karena test binet
diutamakan untuk anak-anak, maka David Wechsler mengembangkan sebuah test
intelegensi yang disebut the wechsler test.
Pada test ini ada
4 indeks yang diujikan:
·
Verbal comprehension
·
Perceptual reasoning
·
Working memory
·
Processing speed
3. Test Construction:
Good Test, Bad Test?
Untuk
mempertimbangkan suatu tes baik atau tidak, maka kita perlu mempertimbangkan
beberapa hal, yaitu:
a. Reliability dan
validitas
·
Reliability = suatu tes dikatakan realiabilitas Ketika
test tersebut dapat memberikan hasil yang konsisten di tiap waktunya Ketika
diberikan kepada orang atau grup yang sama. Misalnya Ketika Ani melakukan test
hari ini dan test yang dilakukan Ani beberapa bulan kemudian, maka hasilnya
haruslah sangat mirip, maka test tersebut bisa dikatakan reabilitas.
·
Validity atau validitas = berarti sejauh mana suatu
test itu mengukur apa yang seharusnya diukur. Suatu tes dapat dikatakan valid
Ketika hasil akurat dari tes tersebut mencerminkan keterampilan orang yang
diberikan tes.
b. Standardization of
test
Standardization
berarti proses pemberian test kepada sekelompok besar orang yang mewakili untuk
siapa test ini dirancang
c. Norms
Merupakan
hasil dari standarisasi test pada suatu kelompok
4. Individual Differences
in Intelligence
a. Intellectual
disability (intellectual developmental disorder)
·
Merupakan kondisi yang ditandai Ketika fungsi
intelektual seseorang dibawah rata-rata dan kurangnya keterampilan untuk
menjalani kehidupan sehari-hari. Biasanya para penderitanya memiliki IQ dibawah
70 atau didua standar deviasi terbawah di kurva normal.
·
Para penderita biasanya didiagnosis bedasarkan deficit
dalam fungsi intelektual yang ditentukan oleh tes standar kecerdasan dan
penilaian klinis yang berdampak pada fungsi adaptif di tiga domain. Domain nya
ini terdiri atas konseptual (spt memoru, reading, language, etc), social (spt
empati, social komunikasi, etc), dan practical (spt sekolah, tanggung jawab,
dan sebagainya).
·
Penyebab dari disorder ini ada banyak, seperti
kehidupan yang tidak sehat, sehingga memberikan dampak pada perkembangan otak.
Sedangkan secara biologis dijelaskan bahwa disorder ini bisa disebabkan oleh down syndrome, fetal alcohol syndrome (terjadi
Ketika memaparkan embrio yg sedang berkembang dg alcohol), dan fragile X syndrome.
b. Giftedness
Kondisi
dimana seseorang memiliki intelegensi jauh diatas kurva normal. Bisa sekitar
diatas 130 yang hanya 2% dari populasi di dunia mengalaminya.
c. Emotion intelligence
Merupakan
kesadaran kita akan kemampuan kita dalam mengendalikan salah satu emosi kita
untuk memfasilitasi dan mencapai tujuan.
C. LANGUAGE
Merupakan system untuk menggabungkan symbol symbol (seperti
kata kata) sehingga mencapai pernyataan bermakna dengan jumlah yang tidak
terbatas dan bertujuan untuk berkomunikasi dengan orang lain.
1. The Levels of Language
Analysis
a. Grammar, merupakan
suatu system aturan yang mengatur struktur dan penggunaan Bahasa.
Grammar
ini terdiri atas beberapa bagian, yaitu:
·
Phonemes merupakan suatu unit dasar pada pengucapan
Bahasa. Phonemes bukan sekedar perbedaan cara pengucapan suatu kata saja.
Didalam Bahasa lain, juga memiliki phonemes yang berbeda dan inilah yang biasanya
menjadi hambatan dalam mempelajari Bahasa asing, yaitu ketidakmampuan dalam
mendengar dan mengucapkan phonemes dalam Bahasa asing.
·
Morphemes merupakan unit terkecil dalam suatu Bahasa,
dengan kata lain morphemes ini bis akita sebut suku kata.
·
Syntax merupakan suatu system aturan untuk
menggabungkan kata dan frasa menjadi kalimat dengan aturan grammar yang benar
·
Semantic merupakan aturan dalam menentukan makna dari
suatu kata dan kalimat
·
Pragmatics merupakan aspek Bahasa yang melibatkan cara
berkomunikasi yang praktis kepada orang lain
2. Development of
Language
Ada
beberapa tahapan perkembangan Bahasa yang dialami oleh semua anak, yaitu:
a. Cooing (terjadi
sekitar usia 2 bulan) = bayi mulai membuat suara seperti vocal
b. Babbling (sekitar usia
6 bulan) = bayi menambahkan suara konsonan ke vokalnya yang hamper terdengar
seperti ucapan nyata
c. One-word speech (saat
sebelum atau sekitar 1 tahun) = Sebagian besar anak mulai mengatakan kata yang
nyata
d. Telegraphic speech
(sekitar 1 atau satu setengah tahun) = mulai merangkai kata menjadi kalimat
pendek sederhana
e. Whole sentences
(Ketika melewati masa prasekolah) = belajar menggunakan tata Bahasa dan
menambah kosa kata hingga usia 6 atau lebih mereka akan mulai fasih dalam
berbahasa.
3. The Relationship Between
Language and Thought
a. Two theories on the
relationship between language and thought
Dua
psikolog perkembangan yang paling mempengaruhi yaitu Jean Piaget dan Lev
Vygotsky.
·
Piaget memiliki teori bahwasannya konsep muncul terlebih
dahulu dan membantu perkembangan Bahasa. Misalnya seorang anak seharusnya sudah
memiliki konsep “ibu” sebelum mempelajari kata “ibu” itu sendiri. Piaget juga
memperhatikan bahwa anak anak di masa prasekolah adalah waktu yang tepat untuk
berbicara dengan diri mereka sendiri. Menurut Piaget ada istilah “kolektif
monolog” yang dimana ini adalah proses Ketika setiap anak membicarakan hal yang
tidak ada kaitannya dengan ucapan orang lain.
·
Vygotsky memiliki pendapat yang bertolak belakang
dengan Piaget. Yang dimana di teorinya di sampaikan bahwa Bahasa lah yang
membantu pengembangan konsep dan Bahasa juga bisa membantu anak untuk
mengontrol kebiasaan atau perilaku termasuk perilaku social.
b. Linguistic relativity
hypothesis
Merupakan
teori yang menyampaikan bahwasannya konsep berpikir dan juga konsep mental yang
kita miliki itu diatur oleh Bahasa. Selain itu juga ada teori “cognitive
universalism” yang mana merupakan suatu teori bahwa konsep itu bersifat
universal dan dapat mempengaruhi perkembangan bahasa
Komentar
Posting Komentar